Facebook Mengambil Data Pribadi di HP. Benarkah?

Beberapa waktu lalu saya menerima video tentang Facebook yang mengambil data di HP dan cara mencegahnya, benar kah video tersebut?

Photo by form PxHere


Dalam video yang berdurasi 4 menit lebih itu, diperlihatkan tentang Facebook yang kata pembuat video itu bisa mengambil data pribadi termasuk M-Banking. Wah, serius banget nih kalau benar, uang saya di rekening yang gak nyampe 500rb, bisa habis itu kalau dibobol Facebook.

Saya jadi mikir nih, apa iya orang setajir Mark Zuckerberg sampai mau membobol rekening saya yang masuk dalam kategori jambu jambuan alias Guava (eh itu dhuafa ya?).

Padahal nih kalau difikir, proses autentikasi M Banking gak segampang itu dibobol hanya dengan bermodalkan password. Misalnya nih, umumnya aplikasi m-banking hanya bisa diregistrasi dengan menggunakan nomor HP yang terdaftar waktu pertama nabung dan mengajukan fasilitas m-banking.

Coba aja, kasih user name dan password m-banking kamu ke teman, apa bisa dia  masuk ke aplikasi kalau pake HP-nya?

Lalu beberapa layanan m-banking juga menggunakan OTP atau One Time Passcode yang dikirim berupa SMS ketika bertransaksi, itu artinya dalam setiap transaksi menggunakan m-banking passcode atau PIN nya bisa berubah-ubah.

Makanya, jika HP atau sim card hilang dan terhubung ke akun bank, kita diwajibkan melapor ke bank untuk perubahan data.

Kemudian dalam video tersebut ada langkah untuk menghapus riwayat di luar Facebook.

Hmmm... sebenarnya menu itu untuk apa ya?

Begini, sesuai dengan penjelasan Facebook, bahwa menu tersebut merupakan fitur dari Facebook yang bertujuan untuk mendapatkan referensi iklan, grup, marketplace ataupun postingan dari teman kamu di Facebook.

Misalnya, ketika kamu mencari suatu barang di Google, kemudian ada kamu meng-klik salah satu web yang menyediakan barang tersebut, maka Facebook akan menganggap kamu tertarik dengan barang tersebut atau yang sejenis. Dari aktifitas tersebut Facebook akan menampilkan iklan yang relevan dengan hasil kunjungan dari web tersebut.

Contoh lain nih, kamu masuk ke akun sho**e dan mencari laptop dengan merk SNSV, maka ketika kamu buka FB akan muncul iklan dari sh**e atau web lain yang menjual laptop merk SNSV tadi.

Lalau apakah dengan menghapus riwayat di luar Facebook akan membuat data pribadi kamu jadi aman?

Sebenarnya, dengan melakukan hal tersebut, gak nyambung dengan keamanan data pribadi yang sensitif, seperti alamat rumah, anggota keluarga, jumlah tabungan di bank, tempat biasa nongkrong, usia nenek kamu, jumlah gigi kakek, dan data data lain.

Karena kalau dilihat dari fungsinya bukan itu tujuan dari menu tersebut.

Dan di situ jelas tertulis, walaupun riwayatnya sudah terhapus, Facebook tetap dapat menggunakan data sebelumnya untuk menayangkan iklan ataupun saran grup maupun halaman.

Bahkan dalam penjelasannya di situs resmi Facebook, mereka menjamin tidak akan menjual data kepada siapapun, ingat data yang dimaksud adalah referensi iklan yang relevan dengan kamu.


Di video tersebut dilanjutkan tentang untuk menon-aktifkan fitur "Aktivitas Mendatang di Luar Facebook".

Lagi lagi saya anggap pembuat konten tidak mengerti apa kegunaan menu tersebut.

Menu tersebut akan mencegah Facebook untuk menampilkan iklan yang relevan dengan penggunanya. Iklan akan tetap ada, karena ini adalah sumber penghasilan dari Facebook, kecuali kamu adalah seorang multi milyuner yang ingin membeli Facebook dan menerapkan kebijakan tak ada iklan lagi. Tinggal Mark Zuckerberg, mau gak dia jual?

Selain itu, jika kamu menon-aktifkan iklan ini, maka Facebook akan menampilkan iklan secara random, yang mungkin justru membuat kamu tidak nyaman.

Terserah aja sih.

Dalam klaim Facebook, fitur-fitur itu justru untuk meningkatkan kenyamanan pengguna, jika kemudian ada tuduhan ini itu maka kita kembali ke kaidah "Yang menuduh wajib mendatangkan bukti, jika tidak bisa maka tuduhan akan kembali ke penuduh".

Saya mungkin aja salah!

Saya terkadang tergelitik ketika ada yang begitu sensitif jika ada peringatan tentang privasi data di media sosial seperti Facebook, padahal kita sendiri secara sengaja atau tidak sering mengumbar "data sensitif" yang kita punya, seperti aktifitas keseharian yang harusnya jadi konsumsi pribadi saja, kegiatan anak yang bisa dijadikan penjahat untuk memata matai kebiasaan kita, ataupun hal lain yang tak penting diposting ke media sosial.

Tapi saya mungkin aja salah, bisa aja FB mengambil data penting kamu yang bersifat rahasia. Tapi apa iya kamu senekat itu menyimpan data rahasia di FB.

Orang kayak saya sih gak perlu khawatir kalau data M-Banking keambil, effort yang dikeluarkan tak sebanding dengan nilai uang di rekening saya yang ngalahkan sedihnya sinetron Indosiar.

Saya juga bukan influencer ataupun orang penting yang bisa terganggu hidupnya kalau privasinya terganggu.

Tak ada sistem yang 100% aman.

Jika sedemikian parno-mu terhadap privasi, berhentilah bermain sosial media atau tak usah terhubung ke internet sama sekali.

Datamu mungkin aja tetap bisa terampok jika tak berhati hati dan bijak dalam berinternet. Gunakan aplikasi yang kamu tahu persis keabsahannya, jangan gunakan aplikasi ilegal, tambahkan pengaman ekstra seperti "Internet Security" jika kamu memang orang yang aware terhadap keamanan internet.

Demikian juga, jika ada link/ tautan yang kamu tak tahu persis keamanannya, tak perlu kepo untuk meng-kliknya. Tenang aja, kamu tidak akan dijuluki kudet, kaidahnya "Jangan kamu mengikuti tanpa ada ilmu di dalamnya".

Namun, walaupun kamu berhati hati dan menerapkan protokol keamanan yang ketat dalam berinternet dan tetap kena bahaya juga, inilah yang disebut tawakkal.

Karena pada intinya tidak ada sistem yang 100% aman.




Komentar